Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Rayakan Kelulusan Siswi SMP Pajang Foto Toples di Facebook

Ilustrasi
MAGETAN - Seorang siswi SMP di Magetan, Jawa Timur, merayakan kelulusan dari ujian nasional (UN) dengan cara unik, yakni menyebarkan foto telanjang dada di Facebook.


Siswi SMP Negeri Ngariboyo itu berinisial IR, demikian harian Surya (TRIBUNnews.com Network) melaporkan.

Foto porno ini mulai terlihat di facebook (FB) dengan nama profil IR ini setelah pengumuman kelulusan UN.

Aparat polisi setempat, konon sudah mulai menyelidiki pengunggah foto porno siswi SMP ini.

Informasi yang dihimpun Surya menyebutkan, foto porno yang konon pemiliknya bernama RK, siswi klas 9 SMP Negeri di Ngariboyo ini tidak hanya berpose telanjang dada (toples), namun juga telajang bulat. 

"Saya yakin itu bukan perbuatan dari siswi itu. Mungkin yang mengunggah orang dekat, bisa teman atau mantan pacar. Soalnya selain foto porno, kata-kata yang ditulis di FB itu sangat jorok, tidak mungkin itu dilakukan seorang siswi," kata salah seorang guru setempat kepada Surya, Senin (4/6/2012).

Sekolah, lanjutnya sudah berusaha memanggil siswi ini. Namun, seusai pengumuman itu siswi ini tidak pernah terlihat di sekolah. 

"Sejak foto itu diunggah di FB dan menjadi pembicaraan di kalangan guru dan siswa, RK  sudah tidak terlihat di sekolah. Kabarnya juga sudah tidak dirumah juga," kata guru ini.(*)

readmore »»  

Surat Pernyataan Tidak Perawan di sebuah SMP

(Madiun, Jawa Timur): Asrina Hariyani (16 tahun), siswi kelas 8-E SMPN 10 kota Madiun, Jawa Timur, dipaksa oleh gurunya agar membuat surat pernyataan jika dirinya sudah tidak perawan.

Karena itu, sudah dua hari terakhir, Asrina, putri sulung pasangan suami istri (Pasutri) Hari Sutriso-Sri Wahyuni, warga Jalan Sukoyono No.26 kota Madiun, tidak masuk sekolah karena malu dan trauma. Pasalnya 23 Mei lalu, siswi SMPN 10 kota Madiun itu, dipaksa oleh guru Bimbingan Konseling (BK), Wahyu, untuk membuat surat pernyataan jika dirinya sudah tidak perawan. Karena ditekan dan takut, Asrina menuruti paksaan gurunya.

"Saya tidak pernah melakukan hal-hal yang melampaui batas. Tapi kenapa mendapat informasi sepihak dari teman saya, bu Wahyu percaya dan memaksa saya untuk membuat surat pernyataan jika saya sudah tidak perawan. Memang saya akui, saya sudah punya pacar. Tapi saya tidak pernah melakukan hal-hal yang dituduhkan",kata Asrina kepada wartawan, dengan didampingi oleh orang tuanya, dan tantenya, Kasmini, Jumat (1/6/2012).

Asrina didampingi tantenya (foto: dibyo/berita2.com

Tak hanya memaksa Asrina untuk membuat surat pernyataan tidak perawan yang dilakukan oleh guru BK. Orang tua gadis hitam manis ini, juga diminta datang ke sekolah. Dengan diwakili oleh tantenya, Kasmini, keluarga Asrina datang ke sekolah. Sesampainya di sekolah, pihak BK minta kepada keluarga Asrina untuk memeriksakan anaknya ke dokter.

Kamis 31 Mei 2012, sekitar pukul 19.00 Wib, dengan diantar tantenya, siswi SMP itu mendatangi dokter spesialis kandungan, Dr.Santi. Setelah diperiksa dengan alat DiaSpot hCg dengan sensitivitas 25mIU/ml, Asrina dinyatakan tidak hamil. Namun Dr.Santi tidak berani mengeluarkan surat visum et repertum tentang masih gadis atau tidaknya, Asrina. Karena itu bukan wewenangnya.

Dengan berbekal surat pengantar dari Dr.Santi, Jumat 1 Juni 2012, ibu Asrina, Sri Wahyuni, dengan ditemani oleh tantenya, Kasmini, datang ke RSUP DR.Sudono Madiun, untuk meminta visum. Tapi oleh pihak rumah sakit ditolak dengan alasan permintaan visum harus ada surat pengantar dari kepolisian.

Karena ingin mengetahui kebenaran tentang putrinya, ibu Asrina langsung mendatangi Polsek Taman untuk meminta surat pengantar visum. Namun polisi menolak dengan alasan, permintaan pengantar visum hanya bisa diberikan atas adanya suatu kejadian tindak pidana.

Untuk menyelesaikan masalah ini, dengan ditemani dua orang anggota Polsek Taman, orang tua Asrina mendatangi sekolah. Pihak polisi menjelaskan kepada sekolah, jika masalah ini dimintakan visum, maka perkaranya akan melebar.

Sementara itu, orang tua Asrina, Hari Sutrisno, mengatakan tidak terima putri sulungnya diperlakukan seperti itu oleh pihak sekolah. Selain putrinya malu untuk masuk sekolah, karena masalah ini menyangkut nama baik dan harga diri Asrina dan keluarganya.

"Kalau misalnya membolos kemudian disuruh membuat surat pernyataan agar tidak mengulang, tidak masalah. Tapi ini anak saya dipaksa oleh gurunya agar membuat surat pernyataan tidak perawan. Memang saya keluarga miskin, tapi masih punya harga diri", terang Hari Sutrisno, kepada wartawan dirumahnya, Jumat (1/6/2012).

Terpisah, Kepala Sekolah SMPN 10 kota Madiun, Nasir, maupun guru BK, Wahyu, ketika akan dikonfirmasi wartawan, tidak berada ditempat. Wartawan hanya ditemui oleh Humas, Haryaningtyas. Namun tak ada komentar sedikitpun dari humas.

"Untuk masalah ini, saya no coment. Kalau besuk di koran ada komentar saya, akan saya tuntut", kata Haryningtyas kepada wartawan, seraya mengancam. (dib).
 
readmore »»  

Heboh! Video Guru SMA Lecehkan Siswi Berjudul ''SMA Tri Karya Gempar Boss''

SURABAYA- Beberapa hari terakhir, dunia pendidikan di Surabaya dihebohkan dengan beredarnya video asusila yang diduga dilakukan seorang guru SMA swasta kepada siswinya. Video berjudul ''SMA Tri Karya Gempar Boss'' itu beredar ke kalangan siswa pengguna ponsel.

Video berdurasi 6 menit dengan format 3gp tersebut diambil oleh seseorang menggunakan kamera ponsel dari lubang kunci pintu sebuah ruangan. Tampak dua orang siswi berseragam dan seorang laki-laki yang sedang meremas-remas payudara salah satu siswi. Sementara siswi satunya hanya diam meskipun mengetahui temannya tengah dicabuli.

Menurut seorang sumber dari kalangan siswa sekolah di kawasan Kelurahan Manukan, Kecamatan Tandes itu, pria berkacamata dalam video tersebut adalah seorang guru Bimbingan Penyuluhan (BP), sementara dua siswi tersebut masing-masing bernama AI dan SIL. ''Yang payudaranya diremas itu adalah AI,'' kata sumber yang menolak disebut identitasnya itu, Jumat (11/5/2012).

Menurutnya, aksi tersebut dilakukan di sebuah ruang komputer. Salah satu siswi itu dibawa oleh guru tersebut karena mengaku sakit. ''Masak kalau sakit dibawa ke ruang komputer? Kan di sekolah ada ruang kesehatan,'' jelas sumber tersebut.

Humas SMA Tri Karya, Rochim, saat dihubungi membenarkan beredarnya video tersebut. Namun saat diminta penjelasan lebih jauh, pria ini menolak karena beralasan akan melakukan shalat Jumat. Usai shalat Jumat, ponselnya tidak lagi dapat dihubungi karena tidak aktif.

readmore »»